<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ruby Kholifah's World</title>
	<atom:link href="http://dwiruby.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dwiruby.wordpress.com</link>
	<description>Loving ... Caring ...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Jun 2007 02:55:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dwiruby.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ruby Kholifah's World</title>
		<link>http://dwiruby.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dwiruby.wordpress.com/osd.xml" title="Ruby Kholifah&#039;s World" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dwiruby.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gadis Thailand dan Pelacuran</title>
		<link>http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/gadis-thailand-dan-pelacuran/</link>
		<comments>http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/gadis-thailand-dan-pelacuran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 02:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dwiruby</dc:creator>
				<category><![CDATA[perspektif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/gadis-thailand-dan-pelacuran/</guid>
		<description><![CDATA[“Mister, what do you want?” begitulah kira-kira seorang puying (gadis) di bawah 18 tahun dengan bahasa Inggris pas pasan menyapa dua turis asing yang melintas di depannya di satu senja. Wajahnya lugu ndeso, berpakaian rapi agak dipaksakan modern; celana jeans dan T-shirt ketat yang hampir menutup pusarnya, berdiri kira-kira dua meter dari tempat kami nongkrong. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dwiruby.wordpress.com&amp;blog=1292165&amp;post=4&amp;subd=dwiruby&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">“<em>Mister, what do you want</em>?” begitulah kira-kira seorang <em>puying</em> (gadis) di bawah 18 tahun dengan bahasa Inggris pas pasan menyapa dua turis asing yang melintas di depannya di satu senja. Wajahnya lugu <em>ndeso</em>, berpakaian rapi agak dipaksakan modern; celana jeans dan T-shirt ketat yang hampir menutup pusarnya, berdiri kira-kira dua meter dari tempat kami nongkrong. </span></p>
<p><span id="more-4"></span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Mengapa gadis lugu di bawah umur tersebut terlibat dalam bisnis seks?</span><span style="font-size:8.5pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Yang pasti kata Pataya dan <em>puying</em> adalah dua kata yang <em>interconnectedness</em> dan sangat dekat hubungannya dengan kemiskinan di Thailand. Tak hanya Pattaya sebenarnya yang menjadi tempat berlangsungnya bisnis seks. Masih ada daerah Patpong yang letaknya di <em>downtown</em>-nya Bangkok.<span>  </span>Patpong disebut-sebut sebagai bisnis seks dengan omzet terbesar se Asia Tenggara. Sementara Pattaya adalah daerah otonomi khusus di sebelah utara<span>  </span>Daerah yang terletak di sebelah utara Bangkok ini konon merupakan lokalisasi tertua.</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Meningkatnya migrasi perempuan ke kota, khususnya pada industri seks dapat dikaitkan dengan ekspektasi kultur dan struktur ekonomi yang berkembang di negeri gajah ini. Di kultur masyarakat Thai, nilai tertinggi menjadi perempuan terletak pada jenis pekerjaan dan seberapa besar uang yang disumbangkan untuk keluarga dan saudara-saudaranya. Banyak studi melaporkan bahwa anak perempuanlah yang nyata-nyata banyak memberikan bantuan pada orang tua mereka. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Sementara anak laki-laki cukup dengan kesediaannya menjalani hidup sebagai <em>monk</em> (biksu) minimal satu kali dalam kehidupannya sudah bisa membanggakan orang tua. </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Dalam ajaran Budha, ketika anak laki-laki mengenakan baju kuning biksu dan orang tuanya menyentuhnya, maka kelak ketika mereka meninggal maka arwahnya akan pergi ke arwana. Ow, teman perempuan Thai saya menuturkan bahwa<span>  </span>walaupun anak laki-laki tidak bekerja, asalkan mau menjalani hidup sebagai biksu, sehari saja, sudah disanjung keluarga. Berbeda dengan anak perempuan yang berapapun kebaikan yang dibuatnya, taruhlah mengirimkan semua jerih payahnya untuk kemakmuran keluarga, tetap derajatnya tidak lebih baik dari anak laki-laki. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Nilai-nilai patriarki sangat kental mengkonstruksi makna “menjadi perempuan Thai”, dimana lingkup kehidupan mereka hanya rumah dan desanya, wajib menjaga kesucian dan keperawanan sebelum menikah, dan sesudahnya dituntut untuk monogami. Sebaliknya menjadi laki-laki di masyarakat Thai adalah anugerah. Mereka senantiasa mendapatkan kesempatan dan malah didorong untuk bersosialisasi dengan kehidupan sosial di luar keluarga dan dimaklumkan dengan permisivitas seks. Ketika kewajiban-kewajiban sebagai perempuan Thai diterjemahkan dalam bahasa praktis yaitu membantu keluarga atau mensupport pendidikan saudara-saudaranya, bersamaan itu permintaan pekerja perempuan di kota semakin meningkat, dibarengi lunturnya nilai-nilai tradisional sebagai perempuan karena ketergantungan keluarga secara materi pada anak perempuan semakin meningkat, membuat pilihan migrasi tanpa proteksi dari anggota keluarganya dan dukungan orang tua menjadi tak terelakkan. Apalagi didukung terbatasnya lapangan pekerjaan bagi perempuan di desa-desa, serta rendahnya pendidikan yang mustahil mendatangkan pendapatan tinggi. Kondisi inilah yang membuat para perempuan mempersepsikan bahwa menjadi pekerja seks adalah pilihan satu-satunya yang bisa menghasilkan <em>big money</em>. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Jatuhnya pilihan perempuan pada industri seks secara historis ada kaitannya dengan tradisi dan situasi ekonomi politik internasional di Thailand. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Dulu pada zaman pre komunis Cina, keberadaan rumah border diterima masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sosial. Bahkan sampai sekarang para istri lebih merelakan suaminya “<em>jajan</em>” di luar ketimbang mempunyai istri simpanan. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Karena hubungan dengan pekerja seks ádalah murni hubungan jual beli. Berbeda dengan mempunyai istri simpanan, yang akan melibatkan emosi, cinta dan hak waris. Pada tahun 1932 sampai berakhirnya perang dunia kedua 1945, Jepang berhasil menaklukkan Cina. Selama periode itulah perempuan-perempuan dipaksa untuk melayani seks tentara Jepang dan kebanyakan <em>comfort women </em>didatangkan dari Asia, salah satunya Thailand. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Tahun 1967, Thailand sepakat menyediakan diri sebagai R&amp;R (Rest and Recreation) spot bagi tentara Amerika selama perang Vietnam. Pada saat itulah <em>booming </em>prostitusi. Sekitar 400,000 perempuan terlibat bisnis seks yang kemudian ditelantarkan setelah perang usai dan akhirnya diambil alih oleh sektor wisata. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Dari sinilah kemudian prostitusi di Thailand menjadi bisnis berskala internasional dibawah naungan sektor wisata. Bagaimana mungkin pemerintah Thai menjadikan negaranya sebagai “rumah border” bagi Amerika? Jawabnya singkat saja “tentara Amerika butuh perempuan; dan Thailand butuh dolar,” tutur salah satu pejabat pemerintahan Vietnam Selatan. <span> </span>Kenapa bisnis seks masih tetap jalan sampai saat ini? Jawabnya, seperti layaknya industri multinasional yang lain, lahan ini mendatangkan keuntungan yang besar dengan membayar murah tubuh perempuan desa, lugu yang hanya berbekal pengalaman dadakan dan menempatkannya sebagai pekerjaan individu yang tidak perlu jaminan keselamatan formal. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dwiruby.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dwiruby.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dwiruby.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dwiruby.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dwiruby.wordpress.com&amp;blog=1292165&amp;post=4&amp;subd=dwiruby&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/gadis-thailand-dan-pelacuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1a0a0b3ef7d2fb3151036d9bbd609c88?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dwiruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikan, Menu Utama Idul Adha di Muslim Thai</title>
		<link>http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/ikan-menu-utama-idul-adha-di-muslim-thai/</link>
		<comments>http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/ikan-menu-utama-idul-adha-di-muslim-thai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 02:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dwiruby</dc:creator>
				<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/ikan-menu-utama-idul-adha-di-muslim-thai/</guid>
		<description><![CDATA[Ao Makham, salah satu komunitas Muslim di provinsi Puket Thailand, terlihat sibuk siang itu, sehari menjelang Idul Adha yang jatuh pada di pengujung tahun 2006. Tak terdengar takbir pertanda hari suci umat Islam tiba saat bus VIP yang saya tumpangi memasuki kawasan wisata Puket. Mungkin karena jumlah Muslimnya tidak sebanyak Patani, Yala dan Naratiwat, sehingga perayaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dwiruby.wordpress.com&amp;blog=1292165&amp;post=3&amp;subd=dwiruby&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Ao Makham, salah satu komunitas Muslim di provinsi Puket Thailand,</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> terlihat sibuk siang itu, sehari menjelang Idul Adha yang jatuh pada di pengujung tahun 2006. Tak terdengar takbir pertanda hari suci umat Islam tiba saat bus VIP yang saya tumpangi memasuki kawasan wisata Puket. Mungkin karena jumlah Muslimnya tidak sebanyak Patani, Yala dan Naratiwat, sehingga perayaan Idul Adha tidak begitu terlihat di perkotaan. Baru ketika mobil pick up temanku melaju membelah perkebunan karet, tampaklah beberapa perempuan memakai jilbab dan laki-laki berkopyah pulang dari masjid siang itu.</span><span id="more-3"></span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Ao Makham diambil dari bahasa lokal yang berarti Teluk Tamarin<em>. Ao</em> artinya teluk dan <em>makh</em>am artinya tamarin, yaitu buah asam yang manis rasanya seperti coklat. Di desa kecil inilah saya merayakan Idul Adha bersama keluarga Marddent, sebuah keluarga besar yang tergolong aktif dalam aktivitas Jamaah Tabliq, salah satu sekte dalam Islam yang bergerak di bidang dakwah lintas negara. Di keluarga inilah selama tiga hari, saya mencoba memahami cara Muslim Thai merayakan Idul Adha, salah satu hari raya umat Muslim selain Idul Fitri. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Yang unik pada perayaan Idul Adha di Ao Makham adalah pada hidangan lebaran yang disuguhkan setelah sholat Id pagi hari. Lain budaya lain pula tata cara dan kepercayaannya. Kalau di Banyuwangi – Jawa Timur, dimana saya dilahirkan, hari raya selalu diasosiasikan dengan makan ketupat. Maka setiap hari raya, jika Anda berkunjung ke Banyuwangi, kota paling ujung di Jawa Timur Anda akan menemukan hidangan ketupat dipadu dengan opor ayam atau gulai kambing atau sapi menjadi hidangan favorit saat lebaran. Tidak demikian halnya di Ao Makham-Puket, justru pada saat lebaran khususnya lebaran haji, menu utamanya adalah “Ikan” yang dimasak beberapa macam menu seperti <em>kanomchin</em>, bubur, gulai dan <em>kengsum</em>. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Jika menu standar kenduri setelah Id di Banyuwangi adalah nasi, ayam atau daging sapi dibumbu merah, mie, tumis kacang panjang, maka di Ao Makhan lain pula ceritanya meskipun sama-sama kota pesisir. </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">M</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">uslim di Ao Kaman menempatkan ikan laut sebagai menu utama lebaran. Setelah sholat Id, semua jamaah Majid Izatul Islam dipersilahkan makan nasi bubur ikan atau bahasa lokalnya disebut <em>khaotom </em>yang telah disediakan oleh panitia masjid. <em>Khaotom</em> (Khao= nasi, tom=sesuatu yang ada airnya) ini dibuat dari nasi yang dimasak seperti bubur dibumbui bawang dan merica dan dicampur potongan-potongan kecil ikan laut segar. <em>Khaotom</em> biasa disajikan dengan ditaburi daun bawang dan seledri mentah, jadi sangat terasa segarnya. Begitu imam sholat Id menutup ibadah dengan doa, ratusan jamah sholat ‘id pagi itu langsung menuju meja prasmanan. </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Mereka berjajar rapi mengambil satu mangkok <em>khaotom</em>. Jamaah laki-laki dan perempuan dipisahkan. <span> </span></span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">“Kenapa hidangannya bubur ikan?,” tanyaku penuh penasaran pada temanku yang antri di belakangku. Menurut Saadah, temanku, ikan adalah penghasilan terbesar di desanya dan semua orang mampu membeli termasuk para fakir miskin. Alasan kedua adalah pada hari kurban hampir semua orang di desa Ao Makham mendapatkan jatah daging kurban, makanya mereka memilih hidangan yang cepat dan sederhana untuk menjamu jamaah sholat ‘id. Setelah menghabiskan satu mangkok <em>khaotom</em>, jamaah kemudian dipersilahkan menyantap “dawet” atau bahasa lokalnya <em>lo chong</em>. Hidangan manis ini sama persis dengan dawet cendol nya orang Jawa. “ Diberi nama <em>lo chong</em> karena bentuk cendolnya yang dicetak memanjang melalui lobang dan meluncur jatuh sendiri di panci, maka namanya <em>lo chong</em>,” begitulah kawanku menjelaskan. “Tapi hidangan semacam ini hanya pada saat lebaran haji, sementara pada saat <span>Idul<strong> </strong></span>Idul Fitri biasanya hidangan lebih bervariasi dan lebih banyak lagi”, tambah Da sambil menyantap <em>lo chong</em>.</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Seperti adat di kampungku juga, setelah sembahyang id, maka kita bersalam-salaman dengan para tetangga yang datang ke masjid. Hanya saja di Ao Makham, mereka tidak mengucapkan sepatah kata “maaf” secara verbal, saat menjabat tangan tetangganya. Tidak seperti tradisi kebanyakan di Indonesia, begitu kita berjabat tangan dengan tetangga maka kata “maaf lahir batin” akan meluncur sepontan sebagai pengakuan dosa dan refleksi dari kesalahan ucap maupun laku dari si peminta maaf dan disambung secara dengan, “sama-sama, akupun demikian”, oleh yang dimintai maaf. Di Ao Makham, mereka hanya berjabat tangan dan kemudian mengusapkan tangannya dari atas kepala sampai ke muka. Saya hanya bisa menangkap sebuah ketulusan hati disana. Mata yang berkaca-kaca saat anak menjabat tangan dengan orang tua, kakak dan adik berpelukan, bagiku cukup menggantikan kata “maaf” secara verbal. Mata yang basah manakala pertemuan keluarga di rumah induk seperti yang terjadi siang itu di keluarga Marddent adalah bukti penyesalan dan keinginan untuk rekonsiliasi dengan anggota keluarga jika pernah ada kata atau laku yang menoreh luka. Dan temanku membenarkan asumsi saya bahwa jabat tangan dalam konteks lebaran artinya meminta maaf. Hanya kerabat dekat sajalah yang menjadi sasaran silaturahmi, sementara tetangga-tetangga sudah dituntaskan ketika berada di masjid karena hampir semua warga hadir pada saat sholat Id. </span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Bukan lebaran tanpa makan <em>kanomchin, </em>itulah pepatah yang pas untuk melukiskan tradisi warga Muslim di Ao Makham. <em>Kanom</em> artinya makanan dan <em>chin</em> diambil dari kata China. Hidangan <em>kanomchin</em> terdiri dari tiga komponen, mie putih, sayuran dan sup <span> </span>ikan. Mie putih terbuat dari bahan dasar beras yang dimakan bersama sayur-sayuran dan diguyur dengan sup dari ikan yang dihancurkan dan dimasak dengan santan. Rasanya pedas dan sedap sekali. Hampir di setiap rumah (keluarga) yang kami singgahi selalu disempatkan makan <em>kanomchin</em>. Rajungan, kepiting dan kerang juga bisa dijadikan alternatif saus jika menghendaki rasa yang berbeda. Maklumlah desa Teluk Tamarin ini hanya terletak 200 meter dari tepi pantai. Berbicara filosofinya makan <em>kanomchin</em> pada saat lebaran, beberapa ibu-ibu memberikan penjelasan seperti di bawah ini:</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">“Mungkin karena mudah dimasak dan tidak ribet, maka kami memilih kanomchin sebagai hidangan lebaran” (Ibu A)</span></em><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">“Emmm..dulunya “kanomchin” itu makanan china, nenek moyang kita dilarang makan, tapi sekarang kita bisa menikmatinya” (Ibu B)</span></em><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">“Kanomchin” adalah makanan traditional kita, penduduk tepi laut” (Ibu C)</span></em><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p><em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">“Hidangan ini murah dan tidak mengenyangkan, jadi bisa makan berkali-kali” (Temanku)</span></em><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">Apapun filosofi di balik makanan <em>kanomchin</em>, saya sangat menikmatinya, sebagai penghormatan tapi juga ketagihan karena setiap rumah punya cita rasa sendiri-sendiri. Apalagi makannya sambil ditemanin dengan gosip terbaru tentang terpilihnya kepala desa baru di desa Aokamah. Tak urung makan <em>kanomchin</em> sepiringpun bakalan nambah. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dwiruby.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dwiruby.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dwiruby.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dwiruby.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dwiruby.wordpress.com&amp;blog=1292165&amp;post=3&amp;subd=dwiruby&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dwiruby.wordpress.com/2007/06/27/ikan-menu-utama-idul-adha-di-muslim-thai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1a0a0b3ef7d2fb3151036d9bbd609c88?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dwiruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
